Buku ini mencoba membuka tabir hijab permukaan sufi yang sarat dengan wajah irfani dan isyroqi, melalui pandangan yang aqli dan ma’quli. Karena itulah mereka dianggap menyimpang bahkan anti syariat. dengan narasi reflektif sederhana, semua ungkapan yang tertulis di buku ini secara tidak langsung-semoga-menggambarkan bahwa para sufi besar sejak dulu hingga kini adalah para penganut agama islam yang benar-benar menggenggam syariat. Mata dan pikiran dunia di era saat ini sudah saatnya melihat para sufi dengan pandangan yang objektif, tanpa alergi, sentimen, bahkan fanatisme keagamaan tertentu. Sudah saatnya menganggap mereka sebagai pengamal ajaran agama Islam sejati, atau setidaknya tidak menutup sebelah mata ketika berhadapan dengan mereka.
Buku Fadhoilus Syuhur: Bulan Hijriyyah dalam Bingkai Tashowwuf adalah karya fenomenal Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul QS, Mursyid TQN Ma’had Suryalaya–Sirnarasa PPKN III silsilah ke-38, yang menjelaskan bagaimana talqin, dzikir jahar, dan dzikir khofi menjadi alat pensucian jiwa untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Ditulis dari pengalaman suluk panjang bersama para masyayikh, buku ini menjawab kebutuhan ikhwan TQN dan para pencari jalan ruhani yang ingin mengetahui thoriqoh, mursyid, dzikir dan berbagai ajaran pokok yang menjadi inti perjalanan ruhani menuju Alloh.
Buku ini membahas konsep karakter baik manusia dari perspektif tashowwuf, khususnya tradisi Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah, dengan menekankan bahwa karakter baik adalah fitrah azali yang harus diaktifkan melalui berpikir sufistik, bimbingan guru, dan pengamalan thoriqot, syariat, hakikat, dan ma’rifat. Di dalamnya diulas tujuh lapisan diri manusia, relasi akhlak mahmudah dan madzmumah, serta berbagai karakter sufistik (tawakkal, syukur, ridha, zuhud, tawadhu’, faqir, ‘isyq, dan lainnya) yang relevan untuk pengembangan diri dan pendidikan karakter di era modern.
“80 Monodialog Murid Thoriqot” mengajak pembaca menyelami dunia thoriqot Qodiriyyah Naqsyabandiyyah Suryalaya melalui 80 tanya jawab singkat yang jujur, ringan, dan apa adanya, persis seperti kegelisahan murid di hadapan guru.
“Terjemah Tematik Miftahus Shudur” adalah terjemahan berbahasa Indonesia atas kitab Miftahus Shudur fi Bayani Dzikri ar-Rahimi al-Ghafur karya Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom), yang mengupas hakikat, keutamaan, dan tata cara dzikir terutama kalimat Laa ilaaha illalloh dalam tradisi TQN Suryalaya.